![]() |
| Rokok elektronik akan meningkatkan risiko Covid-19.* Foto: Pixabay |
KABAR BANDUNG BARAT – Para remaja dan para pemuda yang merokok vape atau rokok elektronik berisiko lebih dari tujuh kali kemungkinan besar terinfeksi Covid-19, dibandingkan dengan sebayanya yang tidak menggunakan rokok elektronik tersebut, menurut sebuah studi yang dipublikasikan Selasa (11/08/2020) dalam Journal of Adolescent Health.
Orang-orang muda yang mengisap rokok
dan juga merokok vape hampir lima kali kemungkinan besar mengalami
gejala-gejala virus corona baru ini, termasuk batuk, demam, kelelahan, dan
sulit bernafas, dibanding dengan yang tidak pernah merokok maupun menggunakan
vape, seperti diuraikan hasil riset tersebut.
Ini bisa dijelaskan mengapa mereka
juga kemungkinan besar menerima tes Covid-19, yang dilakukan pada Mei lalu,
ketika studi ini dilakukan, banyak kawasan terbatas tes Covid-19 untuk orang dengan
gejala-gejala seperti di atas.
"Studi ini hanya satu dari banyak
studi yang memperlihqtkan bahwa menggunakan e-cigarette memicu
hasil yang berbahaya pada paru-paru,” kata pemimpin studi Bonnie
Halpern-Felsher kepada UPI.
"Penemuan ini menjadi seruan kepada
para orang muda untuk tidak coba-coba merokok vape dan, bila mereka terlanjur merokok
vape, tolong cepat hentikan, khususnya saat ini selama pandemi Covid-19,” ujar Halpern-Felsher,
seorang profesor kesehatan
anak dari Universitas Stanford.
Beberapa tahun ke belakang, di
Amerika Serikat hampir 3.000 remaja telah dilarikan ke rumah sakit dengan
penyakit yang disebut luka paru-paru akibat e-cigarette dan vape atau disingkat EVALI, dan lusinan
telah meninggal karena kerusakan paru-paru yang diakibatkan menggunakan produk
tersebut.
Menurut para pakar kesehatan, gejala-gejala
EVALI -- termasuk batuk dan
bernafas pendek – sering mencerminkan terinfeksi Covid-19.***



0 Komentar untuk "Rokok Elektronik Meningkatkan Risiko Covid-19 di Kalangan Remaja dan Orang Dewasa"